Jumat, 12 Mei 2017

Generasi Kurang Guyon




Sedih sekali mendengar kabar warga Paciran ditangkap sebagai terduga teroris. Info sementara mereka mau menyerang Kepolisian Sektor Brondong. Sebelumnya juga terlibat bom di beberapa tempat termasuk di Sarinah Thamrin Jakarta awal tahun lalu.

Tahun 2002 kita sebagai warga Lamongan sebenarnya terguncang dengan aksi the smiling bomber Amrozi dan rekan-rekannya. Tahun 2013 muncul lagi pengeboman di markas Kepolisian Resor Poso yang dilakukan ZA, warga Kecamatan Brondong.

Sebenarnya ada apa dengan mereka?

Saya menduga mereka adalah generasi kurang guyon. Mereka terlalu tegang menghadapi permasalahan hidup. Jika mereka sering mendengar ludruk ala-ala Cak Kartolo, Basman, dan kawan-kawan, mereka tentu bisa lebih santai hidupnya. Masih bisa tertawa dalam segala himpitan masalah hidup dan keluarga.

"Akeh utang ga popo, seng penting sombong," ini salah satu gaya Cak Kartolo menertawakan hidup. Mengurai ketegangan menjadi tawa. Satire sekaligus penuh sarkasme.

Gaya-gaya guyonan Cak Kartolo itu sebenarnya sangat menjamur di wilayah pesisir, tempat para terduga teroris itu lahir dan tumbuh. Di warung-warung kopi, di brok-brok tempat nelayan ngayum jaring, canda-tawa adalah obat Lara. Mereka saling ledek tentang masalah hidup masing-masing. Mereka melihat tragedi hidup sebagai komedi hidup.

"Piye kabare, Nda. Kok lemes ngono?"
"Wah, bojoku katoke rangkep telu. Gara-gara plaet. Ra ono iwak blas."

Kira-kira begitu cara mereka mengungkapkan beban hidup. Sangat komedik sehingga hidup tak tegang.

Para terduga terori itu juga terhimpit masalah yang tak kalah berat. Ada yang mencoba meraih bahagia hingga nikah tiga kali tapi tak juga kunjung bahagia. Ada yang mencoba mengubah nasib setelah lelah menjadi tenaga angkut barang di TPI Brondong, lalu jadi kuli, jual obat herbal, menjadi ahli bekam terakhir terbujuk ikut "jihad".

Kalau dunia tidak bisa diraih, setidaknya di akhirat masuk surga. Begitu kira-kira keyakinannya. Jika saya dia sering ikut guyon di warung kopi atau sering-sering buka YouTube lihat Cak Kartolo melucu, hidupnya tidak akan setegang itu.

Sinau tauhid itu bagus. Bagus banget malah. Tapi coba diimbangi dengan fiqih muamalah seperti thaharah atau adabul mar'ah. Biar lebih santai melihat hidup. Kalian yang jomblo, sinau adabul mar'ah bisa jadi bahan pedekate lho. Bisa dadi modal nglamar calon bojo. Jadi jangan terlalu tegang hidup itu.

Masih ingat Ali Imron, kakaknya Amrozi? Sekarang dia sudah tidak tegang lagi menghadapi hidup meskipun dihukum seumur hidup. Dia santai dan suka guyon. Contohnya saat menghadapi para wahasiswa yang wawancara dia untuk dapat gelar Sarjana Hukum. "Gara-gara bom Bali, kalian dapat Gelar SH, Sarjana Hukum. Saya juga dapat SH: seumur hidup."

Begitulah menghadapi hidup. Perbanyak guyon biar santai. Jangan terlalu serius menghadapi persoalan hidup.


Gara-gara terlalu serius melihat beban hidup ini, Lamongan, khususnya Paciran dan Brondong, menjadi basis perekrutan jaringan teroris internasional. Laporan Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) menguatkan itu. Dalam
"INDONESIA’S LAMONGAN NETWORK: HOW EAST JAVA, POSO AND SYRIA ARE LINKED" edisi
15 April 2015 IPAC Report No. 18, jelas disebutkan semua.

"Mamulo pok ngopi, Cah. Pok guyon. Ojo serius-serius ndak cepet mati." Begitu kelakar generasi yang cukup guyon terhadap generasi yang kurang guyon.

M Hilmi Faiq

Rabu, 10 Mei 2017

Agama

Saya menemukan tulisan lama saya, tahun 2003. Tetapi kayaknya masih relevan untuk dibaca ulang...

AGAMA

Sebagai realitas sosial, kita kesulitan dalam menjelaskan mengapa agama yang menjanjikan kasih sayang, kedamaian, kerukunan, serta persaudaraan tiba-tiba muncul dalam wajah yang menyeramnkan: perang atas nama agama (the holy war), membinasakan sesama atas nama agama, atau pun teror dengan menggunakan simbol agama? Padahal agama acap kali dikampanyekan sebagai jalan bagi umat manusia untuk mencapai keselamatan menuju Realitas Agung (the Ultimate Reality). Tragedi kemanusiaan seperti peristiwa 11 September, Bom Bali, peperangan Israel-Palestina yang nyaris abadi itu, seolah menegasikan bahwa agama adalah jalan kedamaian.

     Berangkat dari realitas paradoksal di atas, kemudian Charles Kimball, Ketua Departemen Agama di Universitas Wake Forest, mencoba mengurai simpul-simpul kekerasan atas nama agama dalam buku When Religion Becames Evil (2003). Menurutnya, agama akan berubah menjadi bencana manakala terdapat lima pra kondisi. Pertama, bila suatu agama mengklaim kebenaran agamanya sebagai kebenaran yang mutlak dan satu-satunya. Klaim kebenaran (truth claim) seperti ini, menegasikan kebenaran yang mungkin terdapat dalam agama lain (out sider). Dalam pemahaman ini, out sider  adalah  kelompok sesat dan musuh Tuhan, kerenanya, harus dimusnahkan.

       Kedua, agama menjadi bahaya manakala para pengikutnya menganut prinsip ketaatan buta. Otentitas agama tidak pernah menentang intelek serta rasio manusia. Maka, Kimball mengingatkan, agar kita berhati-hati dengan ajaran-ajaran agama yang bertentangan dengan akal sehat, membatasi kebebasan intelek, membabat itegritas pengikutnya dengan menuntut ketaatan kepada tokoh kharismatik mereka. Karena bila ketaatan buta ini lahir, maka aktivitas mereka menjadi buta pula.

      Ketiga, waham idealisme para pengikut agama. Jika waham ini telah bersemayam, lahirlah upaya-upaya untuk mengusung atmosfer masa lalu yang dianggap ideal, ke masa kini. Padahal, kebutuhan zaman ideal masa lalu itu sama sekali berbeda dengan masa kini. Dalam Islam misalnya, lahirnya kelompok tertentu yang “ngotot” untuk diperlakukannya syariat Islam sebagaimana yang diberlakukan pada jaman Nabi, adalah salah satu representasi dari waham ini.

       Keempat, ketika agama tersebut merelakan dan membenarkan terjadinya “tujuan yang menghalalkan segala cara”. Dengan menyalahgunakan variabel-variebal agama, seringkali cara-cara yang digunakan bertentangan dengan tujuan itu sendiri. Misalnya, untuk mencapai kedamaian, malah ditempuh dengan peperangan.

       Kelima, ketika agama memekikkan perang suci. Kiranya tidah sulit menemukan contoh dari motivasi keberagamaan seperti ini. Tragedi 11 September masih saja menjadi bukti betapa agama tidak lagi ramah. Bahkan, bagi banyak orang di Barat, Osama bin Laden—pemimpin penyerangan tersebut—telah menjadi ikon kejahatan atas nama agama di dunia saat ini.

        Jika demikian, lantas apa yang harus diperbuat untuk mengembalikan wajah asli agama yang penuh kasih sayang, kedamaian, cinta kasih, kerukunan serta persaudaran di atas? Dalam hal ini, sebagai guru besar Studi Agama Kimball menawarkan dialog antariman sebagai salah satu solusi alternatif. Dialog ini mengandaikan hijrah dari teologi klasik-tradisional yang sempit, menuju teologi inklusif yang mempercayai rencana keselamatan umat manusia secara menyeluruh.
       
        Agama harus mengambil disposisi bahwa mungkin saja agama di luar agama kita mampu menjelaskan rencana Tuhan itu. Dus, pandangan iklusivis mengakui kehadiran dan aktivitas penyelamatan yang dilakukan Tuhan pada semua tradisi agama.

         Namun, lanjut Kimball, Langkah ini harus diawali dengan melupakan “berbagai perselisihan dan pertikaian” pada abad-abad sebelumnya untuk mendapatkan saling pengertian dan bersama-sama “menegakkan dan memajukan perdamaian, kebebasan, keadilan sosial, dan nilai-nilai moral”. Jika ini terbangun, maka nuansa keberagamaan dengan perspektif kemanusiaan akan mudah tercapai. Inilah harapan kita!

Kamis, 18 Juni 2015

Lepas dari Bayang-bayang Kata
Cerpen dan ilustrasi sejatinya adalah dua hal yang berdiri sendiri meskipun keduanya terpatri pada lembar yang sama. Maka dari itu, ilustrasi cerpen tetap menemukan maknanya ketika dipamerkan secara terpisah.

Itu setidaknya dapat disimak dalam pemeran Ilustrasi Cerpen Kompas 2014 yang digelar di Bentara Budaya Jakarta, Rabu (10/6) sampai Jumat (19/6). Pameran digelar sebagai bagian dari acara malam penganugerahan Cerpen Pilihan Kompas 2014. Sejak 2002, Kompas secara rutin memamerkan karya-karya ilustrasi cerpen tersebut.

Bahwa ilustrasi cerpen mempercantik perwajahan halaman koran, itu sudah pasti. Tetapi, terlalu reduktif jika memaknai ilustrasi cerpen Kompas hanya sebatas mempercantik atau sebagai wadah penggambaran cerita dari cerpen terkait.

Pada awalnya, ilustrasi cerpen dimaksudkan sebagai upaya mempertemukan gagasan antara cerpenis dan perupa. Ide ini kemudian bergulir seperti nyala api pada setumpuk jerami, menggelora dan membara. Para perupa menafsir barisan-barisan kata cerpenis itu secara luas menjadi imaji yang kerap kali melampaui teks itu sendiri. Pada akhirnya, teks hanyalah menjadi sumber inspirasi perupa untuk melahirkan karya rupa yang benar-benar baru.

Dalam konteks itu, cerpen dan ilustrasi cerpen adalah dua gagasan yang berbeda meskipun dalam beberapa karya terdapat benang merah. Namun, benang merah itu terkadang demikian tipis sehingga sulit untuk mengatakan bahwa keduanya terkait kelindan.





Simaklah karya Rahardi Handining yang menjadi ilustrasi cerpen ”Matinya Seorang Demonstran” karya Agus Noor pada Kompas, 26 Januari 2014. Cerpen itu sendiri bercerita tentang dua mahasiswa yang terpaut hatinya pada seorang gadis. Satu mahasiswa borjuis, anak purnawirawan kolonel Angkatan Darat. Lainnya, mahasiswa aktivis yang juga penulis dan gemar berunjuk rasa. Cerita berakhir dengan tewasnya mahasiswa borjuis terkena peluru aparat dan hilangnya sang aktivis. Belakangan, nama mahasiswa borjuis itu yang diabadikan menjadi nama jalan.

Handining membuat karya figuratif dengan warna-warni mencolok seperti kuning, hijau, merah, dan dominasi merah muda. Dalam gambar itu, tertangkap sesosok pria bertopi memainkan gramofon yang menyuarakan lambang cinta. Di sekelingnya bertaburan daun-daun nan menghijau.

Cerpen Agus yang demikian melankolis, ditafsir Handining menjadi karya yang begitu ceria. Titik tekan Handining bukan pada matinya sang aktivis, melainkan pada gairah muda para tokoh yang dimabuk cinta. ”Warna merah muda mewakili perasaan cinta itu,” kata Handining.

Meski demikian, Handining mencoba memberi benang merah pada citra daun-daun hijau berguguran. Ini sebagai simbol betapa pilu generasi muda tewas ketika memperjuangkan kebenaran yang diyakininya. Nah, benang merah itu ada, tetapi tipis dan rawan putus.

Lihat juga karya Laksmi Shitaresmi yang menjadi ilustrasi cerpen Afrizal Malna, ”Arsip Aku di Kedalaman Krisis” yang dimuat di Kompas, Minggu, 9 Maret 2014. Cerpen ini sangat basah karena mengambil setting cerita laut, penyelaman, terumbu karang.

Tetapi, Laksmi memberikan ilustrasi berupa binatang hybrid: seekor kura-kura berkaki belalang berjalan di atas hamparan gurun pasir yang diseraki bunga-bunga putih. Di atas kura-kura itu duduk seorang perempuan, mungkin seorang dewi, membawa guci yang meneteskan air.

Karya Laksmi ini bukti betapa cerpen itu dia tafsir sedemikian rupa sehingga menghasilkan karya yang benar-benar baru. Cerpen Afrizal berbau absurditas sehingga lebih bebas ditafsir. Terlepas dari nyambung atau tidaknya antara cerita cerpen dan ilustrasi itu, sesungguhnya karya Laksmi ini sangat ramah di mata dan tentu saja penuh makna. Dus, pada halaman yang sama, pembaca menemukan dua kenikmatan sekaligus: kenikmatan bacaan dan pandangan.

Akan tetapi, tentu saja muncul ilustrasi-ilustrasi yang terkait erat dengan cerpen. Ini tentu saja memudahkan pembaca untuk menebak sari cerita dari ribuan kata-kata yang berserak. Bacalah cerpen ”Penjual Bunga Bersyal Merah” karya Yetti AKA yang dimuat pada 12 Oktober 2014. Sang ilustrator Threeda Mayrayanyi secara agak lugas menggambarkan cerita itu dalam bentuk ilustrasi perempuan bersyal merah membawa keranjang rotan (mungkin juga bambu) penuh bunga.
Cerpen berjudul ”Kuda Emas” karya Tawakal M Iqbal pada Kompas, 22 Juni 2014. Perupa Noor Ibrahim memberikan ilustrasi patung logam berupa imaji kuda bersayap. Tak susah bukan menemukan benang merah di antara keduanya?

Benar belaka kata penulis seni rupa Bambang Bujono dalam pengantar katalog pemeran ilustrasi ini. Setidaknya muncul tiga kemungkinan pada diri pembaca ketika menyimak cerpen sekaligus menikmati ilustrasinya. Pertama, mereka menikmati keduanya karena sama-sama memikat. Kedua, pembaca semata-mata menikmati cerita sembari mengabaikan ilustrasinya. ”Pembaca melupakan ilustrasinya, meski mungkin dinikmati pula oleh pembaca, tak bisa diajak ’berjalan’ bersama cerita pendeknya.”

Ketiga, pembaca hanya menikmati ilustrasinya karena ternyata cerpennya tidak menarik. Tapi, imajinasi pembaca sangat menentukan. Apakah baginya antara cerita dan ilustrasi bisa berjalan beriringan atau malah cukup menikmati salah satunya. Ada adu kuat antara cerita dan ilustrasi.
Lepas dari itu semua, menikmati ilustrasi-ilustrasi yang dipajang di BBJ memberikan kesan yang sangat berbeda. Cobalah abaikan deretan kata di sekeliling ilustrasi itu. Bebaskan gambar-gambar itu untuk berbicara atas dan untuk dirinya sendiri. Beri kesempatan mereka lepas dari bayang-bayang kata. Kita akan menemukan gagasan dalam balutan keindahan....

Kompas, Minggu, 14 Jun 2015   Halaman: 27  

Hijab Titik Keseimbangan Bella

oleh Mohammad Hilmi Faiq

Hidup adalah memilih dan bertanggung jawab atas segala pilihan. Begitulah Laudya Cynthia Bella melihat hidup. Bagi dia, cantik itu bertindak mengikuti kata hati. Dia keluar dari zona aman mencari titik keseimbangan ruang batin.
Titik bahagia itu bermula pada Oktober 2014 ketika Bella menjalani shooting filmAssalamualaikum, Beijing. Biasanya Bella selalu mencopot hijabnya seusai shooting film karena memang sehari-hari dia tidak berhijab. Hingga suatu waktu, Bella merasa begitu nyaman mengenakan hijab dan enggan melepaskannya.
Saat bercerita kepada mamanya, Menny Setiaputra, dia bilang mungkin Bella hanya terbawa peran. Waktu itu, Bella memainkan tokoh Sekar, perempuan berhijab, yang beradu akting antara lain dengan Revalina S Temat.
Sekitar dua bulan kemudian, tepatnya akhir Desember 2014, Bella menunaikan ibadah umrah ke Mekkah. Selama di pesawat dalam perjalanan menuju Mekkah, dia banyak berpikir. ”Aku merasa kosong. Apa yang aku lakuinkok gini-gini aja. Apa pun yang aku lakuin terasa sepi. Aku hidup ini untuk apa, sih,” batin Bella berkecamuk mempertanyakan tujuan hidupnya.

Bella lantas mencurahkan perasaan itu kepada Ustaz Hafiz, pembimbing umrah. Kata sang ustaz, Bella sedang merindukan Tuhan. ”Bella sedang rindu Allah,” begitu kata Bella menirukan ucapan Ustaz Hafiz yang juga memantapkan dorongan dalam diri Bella untuk berhijab.

Dara kelahiran Bandung ini sempat bimbang dan mengatakan hendak bersuami dan punya anak dulu baru berhijab. Namun, Ustaz Hafiz meyakinkannya untuk berhijab agar lebih tenang. Selama menjalani umrah, semakin hari Bella semakin yakin untuk berhijab. Sepulang dari umrah, mantaplah hatinya. Dia meminta kepada manajernya untuk tidak memperpanjang kontrak-kontrak iklan yang hampir habis.
Bella seperti menemukan jalan baru untuk menyesap bahagia. Relung batinnya kini tak kosong lagi karena mulai berjarak dengan orientasi duniawi dan mendekatkan diri pada sisi hakiki, Sang Ilahi.

Titik keseimbangan
Tentu saja lingkungan tidak begitu saja menerima perubahan itu, apalagi menyangkut citra sebagai seorang artis. Sebuah perusahaan obat pencahar sempat berniat memutuskan kontrak dengan Bella sebagai bintang iklan begitu mengetahui pemeran Zainab dalam film Di Bawah Lindungan Ka’bah ini memakai hijab. Pada suatu pagi, mereka menghubungi Bella untuk memutus kontrak. ”Tetapi, sore harinya mereka telepon lagi dan bilang ’Bella kamu enggak apa-apa pakai hijab, nanti kita foto ulang’. Jadi, mereka memperpanjang kontrak dengan saya,” kata Bella yang sore itu tampil menawan dengan hijab merah muda dipadu baju warna serupa.

Bella menjawab setiap pertanyaan dengan suaranya yang lembut. Kerap kali dia tersenyum sebelum menjawab pertanyaan. Keramahannya yang dipadu dengan keelokan wajah merupakan ciri perempuan cantik Indonesia.
Baginya, kecantikan sejati adalah ketika dia mampu mengikuti kata hati. Bella berketetapan untuk terus berhijab meski ada pihak-pihak yang menolaknya karena khawatir mengganggu bisnis mereka. ”Kalau aku terus mikir masalah nominal dan harus buka hijab karena satu iklan itu, sayang banget. Aku tidak tahu umurku sampai kapan. Kalau pas buka hijab kemudian akuinnalillahi (meninggal, maksudnya), kan, sayang banget.”
Dari sisi pekerjaan, Bella bersyukur, ternyata dengan berhijab tidak mengurangi penghasilannya sebagaimana dikhawatirkan beberapa teman dan koleganya. Malah sebaliknya.
                     foto-foto: Kompas/Lucky Pransisca

Saat ini, Bella menjadi bintang iklan untuk empat produk berbeda dan shooting tiga film. Di sela-sela wawancara, Bella minta waktu sebentar karena bertemu dengan tamu dari Jakarta. Rupanya sang tamu menawari Bella untuk menjadi produser. Salah satu personel Bukan Bintang Biasa (BBB) ini masih berpikir-pikir.
Belakangan, BBB hendak menggelar reality show setelah beberapa tahun vakum. Kepada Melly Goeslaw, pembesut BBB, Bella mengatakan rela keluar sebagai anggota jika konsep BBB tidak sesuai dengan citranya sekarang karena berhijab. ”Kamu nanaonan, neng. Aku juga pakai hijab. Enggak apa-apa,” kata Melly kepada Bella menegaskan, hijab bukanlah persoalan.

Pada kondisi seperti itu, Bella seperti menemukan titik keseimbangan antara sisi duniawi yang begitu profan dan sisi agama yang demikian sakral. Ketakutan-ketakutan tentang dampak berhijab yang pernah melintas di benaknya perlahan hilang berganti dengan titik-titik bahagia.

Keputusan Bella berhijab rupanya menginspirasi para Bellaers, sebutan penggemar Bella. Beberapa dari mereka memutuskan untuk berhijab mengikuti idolanya. Teman, keluarga, semua ramai-ramai berhijab. Ibunda Bella, Menny, juga berhijab. Begitu pula dengan kakak kandung Bella, Melissa Nadia Putri (31).
Bella merasa keluarganya lebih teduh dan tenteram. Dia semakin sadar bahwa sebagai figur publik segala tindak tanduknya menjadi model bagi khalayak. Oleh karena itu, ia berharap alih perilaku ini membawa energi positif bagi orang lain.

Bocah mimisan
Bella lahir di lingkungan keluarga yang penuh cinta. Ia adalah anak yang terlahir dari empat bersaudara sebelum kakak sulungnya meninggal. Sejak bayi, Bella demikian disayang hingga cenderung over protective. Orangtua Bella menjaganya agar ia tak sampai kelelahan atau terkena sinar matahari. ”Karena waktu itu fisikku lemah. Kalau kena sinar matahari, mimisan.”


Setiap jam olahraga atau upacara bendera, guru-guru meminta Bella duduk manis di tempat teduh. Mereka tidak ingin Bella pingsan lantaran kecapaian atau kepanasan.

Setiap berangkat sekolah, ia dijaga dua kakaknya, Icha dan Adit. Tugas utama mereka adalah memastikan Bella baik-baik saja. Namun, pernah suatu hari mereka lupa menjaga adik bungsunya itu. Ketika jam pulang sekolah, Bella tak menemukan Adit ataupun Icha yang biasanya setia menunggu di halaman sekolah.

Bella hanya menunggu sampai matahari hampir rebah di barat. ”Bella belum pulang? Ayo bapak antar,” kata Bella menirukan tawaran Pak Cepi, gurunya, kala itu. Pak Cepi, yang kini menjadi kepala sekolah di SD Pelita itu, berputar-putar di daerah Buahbatu mencari rumah Bella. Bella sendiri tidak tahu persis arah menuju rumahnya karena setiap hari diantar dan ditemani kedua kakaknya. Hingga menjelang maghrib, mereka baru tiba di rumah Bella. ”Mama sudah menunggu dengan wajah cemas di depan rumah. Saya langsung lari dan nangiske mama.”
Peristiwa itu membekas dan mengajarkan Bella betapa begitu banyak orang baik, seperti Pak Cepi, dalam hidupnya. Ia berjanji untuk berbuat baik kepada sesama karena Bella yakin kesulitan dapat datang kapan saja.
Bersama rekan-rekannya sesama artis, Bella secara berkala melakukan penggalangan dana untuk anak-anak panti asuhan dan anak-anak autistis. Minimal enam bulan sekali.

Bella mulai dikenal publik semenjak menjadi finalis majalah Kawanku tahun 2002. Namanya makin meroket setelah memerankan tokoh Biyan dalam film Virgin (2004) dengan belajar akting dari Eka D Sitorus. Lewat film ini, Bella menjadi nomine FFI 2005 dan menyandang predikat Aktris Terpuji pada Festival Film Bandung. Sejak itu, kesibukannya terus meningkat. Tak kurang dari 26 sinetron dan 16 film ia bintangi.

Dalam menjalani kesibukannya itu, Bella dituntut memiliki stamina prima dan tidak lembek seperti saat SD dulu. Ia mengakalinya dengan cukup tidur, minum vitamin, dan olahraga. ”Saya sempat ikut pilates dan zumba. Sekarang, saya lagi cari olahraga yang cocok,” kata Bella.

Anak mimisan itu kini menjadi sosok tangguh. Berani meninggalkan zona aman dan memilih jalan hidup sendiri.

Kamis, 11 Juli 2013

Eksploitasi Hutan Tele Rusak Lingkungan

konservasi
Eksploitasi Hutan Tele Rusak Lingkungan

Samosir, Warga yang tergabung dalam Forum Peduli Samosir Nauli menilai Pemerintah Kabupaten Samosir tidak mempunyai visi lingkungan. Mereka mendesak Bupati Samosir Mangindar Simbolon untuk menghentikan operasionalisasi PT Gorga Duma sari dalam mengeksploitasi Hutan Tele yang merupakan daerah resapan air Danau Toba.

     Tuntutan itu mereka sampikan dalam unjuk rasa yang diikuti sekitar 1.000 orang di halaman Kantor Bupati Samosir, Sumatera Utara, Senin (10/6). Unjuk rasa ini melibatkan berbagai kalangan seperti petani, mahasiswa, akademisi, pengacara, dan aktivis gereja. Hadir juga Uskup Agung Medan Mgr A.G. Pius Datubara OFMCap dan mantan Bupati Samosir Wilmar Simanjorang.

     Unjuk rasa dimulai dengan pengumpulan massa di Terminal Pangururan sekitar pukul 08.00. Setelah itu, massa bergerak ke Kantor Bupati Samosir dengan mengendarai sepeda motor, truk, dan mobil.

     Massa disambut oleh puluhan polisi dan anggota Satuan Polisi Pamong Praja Samosir. Pengunjuk rasa kemudian bergiliran berorasi.
     Dalam orasinya, pengunjuk rasa menuding Mangindar tidak bertanggung jawab terhadap konservasi alam Danau Toba. Ini ditandai dengan pemberian Izin Lokasi atas tanah seluas 800 hektar kepada PT Gorga Duma Sari (PT GDS). Dalam izin itu, Mangindar memasukan Hutan Tele dalam katagori areal penggunaan lain (APL).

Izin tersebut diperkuat dengan Izin Prinsip Penanaman Modal oleh Badan Penanaman Modal dan izin Pemanfaatan Kayu oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan Samosir. “Dengan izin ini, hutan Tele rusak,” kata Koordinator Forum Peduli Samosir Nauli(Forum Pesona) Manggaliat Simarmata.

     Koordinator Aksi Forum Pesona Fernando Sitanggang menambahkan, PT GDS telah merusak 200 hektar hutan Tele di Desa Hariara Pintu Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir itu. Mereka membuka jalan, memasukan alat-alat berat, menebang kayu dan mengangkutnya keluar areal hutan. 

     Fernando menjelaskan, tidak ada katagori APL untuk hutan di Samosir. Dengan demikian, seluruh aktivitas PT GDS adalah ilegal.

     Selain itu, izin tersebut tidak disertai analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal). Untuk itu, fernando beserta rekan-rekannya menuntut agar Bupati samosir Mangindar mencabut izin PT GDS tersebut.


Uskup Agung Medan Mgr A.G. Pius Datubara OFMCap dan mantan Bupati Samosir Wilmar Simanjorang berbagi informasi sebelum berunjuk rasa, Senin (10/6)

Diwarnai kericuhan
     Keinginan pengunjuk rasa bertemu Mangindar gagal lantaran dia tengah ke Medan menghadiri acara pisah sambut Pangdam I/Bukit Barisan. Pengunjuk rasa kemudian ditemui Kepala bagian Humas Samosir Franklin Sigalingging dan Asisten Pemerintahan III Penas Sitanggang. Namun pengunjuk rasa menolaknya dengan alasan Penas tidak mempunyai surat tugas sebagai pelaksana harian Bupati. Penas hanya menunjukkan penugasannya via pesan singkat (SMS). “Itu tidak sah kalau penugasan hanya lewat SMS,” kata Wilmar.

     Setelah Penas Pergi, datang Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan YC Hutauruk. Kepada YC, pengunjuk rasa mendesak agar dia segera mencabut Izin Pemanfaatan Kayu. Bahkan, Uskup Agung Pius meminta YC untuk melihat secara nyata kerusakan lingkungan akibat ulah PT GDS dan pemberian izin yang salah. 

     “Saya tidak dapat mencabut izin itu karena saat ini dalam penyelidikan polisi. Forum Pesona kan telah melapor ke Polda Sumut,” ujarnya.

     Namun, penjelasan tersebut dibalas dengan hujatan oleh massa. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba seseorang melempar batu ke arah YC dan aparat. Diikuti beberapa orang lain. Lalu terjadi dorong-mendorong antara pengunjuk rasa dan anggota Polisi Pamong Praja. Sesaat halaman kantor Bupati Samosir hujan batu. Seorang staf Dinas Kehutana  dan Perkebunan S Simatupang bocor kepalannya terkena lemparan batu.


Massa dari Forum Peduli Samosir Nauli saling dorong dengan anggota Satuan Polisi Pamong Praja Samosir saat berunjuk rasa di Kantor Bupati Samosir, Senin (10/6). Mereka menuntut pemerintah Kabupaten Samosior mencabut izin PT Gorga Duma Sari yang mengeksploitasi Hutan Tele, hutan daerah resapan Danau Toba.


     Saat kondisi mereda, Kepala Kepolisian Resor Samosir Ajun Komisaris Besar Donny Damanik berdialog dengan pengunjuk rasa. Pengunjuk rasa meminta Donny memberi garis polisi di lokasi eksploitasio PT GDS, sekitar 20 km dari Kantor Bupati Samosir. “Jangan paksa saya untuk melakukan sesuatu di luar kapasitas saya,” kata Donny.

     Massa kemudian rehat untuk makan siang. Sekitar pukul 14.00, mereka kembali berorasi.

     Sore harinya, warga datang ke Tele, namun dihadang warga Hariara. Mereka menutup jalan dengan portal. Warga juga berbaris menghadang massa Forum Pesona.
                

Selasa, 02 Juli 2013

Aceh Gempa Lagi

Kursi tempat duduk sya bergoyang. Air dalam gelas ikut bergolak. Seperti ada yang mengayun gedung tempat saya berada. Saya sedang berada di lantai 2 Hotel Santika Medan, menunggu konferensi pers acara APEC, Selasa (2/7). "Sepertinya ada gempa." begitu yang terlontar dari sebagian isi ruangan.

Benar saja. Gempa kembali menggoncang Aceh. Kali ini berpusat di darat di Kabupaten Bener Meriah. Berikut info resmi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Info pukul 15.19
Telah terjadi gempabumi 6,2 SR pada Selasa (2/7) pukul 14:37:03 WIB di Provinsi Aceh. Pusat gempa di daratan berada 35 km BaratDaya Kab. Benermeriah atau 43 km Tenggara Kab. Bireuen, atau 50 km BaratLaut Kab. Aceh Tengah, atau 181 km Tenggara Banda Aceh. Sumber kedalaman gempa 10 km. Gempa tidak menimbulkan potensi tsunami.

Gempa dirasakan sangat kuat selama sekitar 15 detik oleh masyarakat di Kab. Benermeriah hingga Banda Aceh. Masyarakat panik dan  berhamburan ke luar rumah. Posko BNPB telah konfirmasi ke BPBD Provinsi Aceh dan BPBD Kab. Benermeriah. Berdasarkan peta guncangan gempa, di sekitar Kab. Benermeriah dampak gempa mencapai V-VI MMI (sedang hingga kuat). Belum ada laporan korban dan kerusakan. BPBD masih melakukan pendataan.
  
Info pukul 15.40
UPDATE GEMPA 6,2 SR

Menurut laporan sementara BPBD Benermeriah, korban akibat gempa 6,2 SR terdapat 5 orang luka-luka dan dibawa ke rumah sakit, 10 unit rumah rusak. BPBD masih melakukan pendataan. Posko BNPB masih terus memantau perkembangan. Info Fauzi Kepala Pelaksana BPBD Benermeriah (085277898833)


Info pukul 21.14

BNPB KIRIM TIM REAKSI CEPAT KE ACEH UNTUK TANGANI GEMPA 6,2 SR

Kepala BNPB telah memerintahkan tim reaksi cepat penanggulangan bencana untuk melakukan kaji cepat dampak kerusakan akibat gempa bumi 6,2 SR di Aceh. Malam ini pukul 21.00 Wib dengan menggunakan pesawat khusus Susie Air akan berangkat ke Aceh. Tim terdiri dari BNPB, SRC PB (Satuan Reksi Cepat Penanggulangan Bencana), Kementerin Sosial, Kementerian PU dan Kementerian Kesehatan.

BNPB terus melakukan koordinasi dengan BPBA untuk melakukan penanganan darurat. Beberapa daerah yang parah mengalami kerusakan adalah di Kabupten Bener Meriah dan Aceh Tengah.

Data sementara dari BPBA Bener Meriah dilaporkan 1 orang meninggal,  puluhan orang luka, 22 rumah rusak berat dan 2 masjid rusak berat di daerah Cekal dan Sumber Jaya. Dilaporkan beberapa ruas jalan retak dan tertimbun longsor.

Sedangkan BPBA Aceh Tengah, melaporkan terdapat 1 orang anak meninggal dunia, 140 orang luka-luka dan dibawa ke rumah sakit, 300 unit rumah rusak berat/ringan, 1 ruas jalan terputus di Km 92  Takengon, Kec Kebayakan, Kp Muliye. Korban meninggal karena tertimbun rumah yang runtuh di desa Bah, Belang Mancung, Kec Ketol, Kab Aceh Tengah.

Pendataan masih dilakukan. BPBA bersama TNI, Polri, Tagana, PMI, relawan dan masyarakat melakukan penanganan darurat. Upaya pencarian dan penyelamatan korban terus dilakukan.

Sutopo Purwo Nugroho
Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB

Tahun lalu, saya harus ke Simeulue untuk meliput setelah gempa berkekuatan 8,5 SR. Bersyukur karena waktu itu tak ada korban jiwa, hanya warga panik.








Seorang  pasien Rumah Sakit Umum Daerah Simeulue, Aceh, menghubungi rekannya saat dirawat di tempat parkir, Kamis (12/4/2012). Pengelola RSUD Simeulue memindahkan para pasien ke tempat parkir untuk sementara menyusul gempa 8,5 SR yang mengguncang Simeulue.



 
Gempa sangat akrab dengan warga Aceh. Semoga kali ini tak ada korban jiwa. Amien.

Minggu, 30 Juni 2013

Demo BBM

Ini catatan yang tersisa dari demo penolakan harga bahan bakar minyak di Medan pada awal hingga pertengahan Juni lalu. Tidak ada yang istimewa, tetapi setidaknya menjadi jejak sejarah panjang peminyakan dan dampaknya di negeri ini.

Dua pekan menjelang kenaikan harga BBM, berbagai elemen masyarakat menggelar unjuk rasa. Sporadis dan kecil-kecilan. Jumlah massa hanya belasan orang. Tidak ada gregetnya. Paling hanya orasi dan bakar ban bekas. Setelah disorot kamera, mereka bubar.

dua hari menjelang kenaikan harga BBM, sepertinya massa mengental. Sebuah pertemuan digelar untuk merencanakan unjuk rasa besar-besaran. Besar dalam pengertian jumlah serta sasaran unjuk rasa. "Kami akan mengerahkan sekitar 10.000 orang. Tujuan akhir kita, memblokade jalan menuju Bandara (Internasional) Polonia Medan," kata seorang koordinator pengunjuk rasa.

Keeseokan harinya, terjadi unjuk rasa di tutujuh titik. Mulai dari unjuk rasa di kantor Konsulat Jenderal Amerika, Depot Pertamina, Kantor Gubernur, hingga jalan masuk Bandara Polonia. Jumlah masing-masing kelompok massa hanya ratusan. Bahkan ada yang hanya puluhan orang.


Mahasiswa beristirahat sambil mengirim pesan singkat ke rekannya saat berunjuk rasa di kawasan Bandara Internasional Polonia Medan, Senin (17/6/2013). Mahasiswa berunjuk rasa menolak kenaikan harga bahan bakar minyak.




Ketika massa berkumpul di pintu masuk bandara, jumlahnya tak lebih dari 400 orang. Padahal, jumlah polisi yang berjaga mencapai 2.700. Belum lagi 300 tentara yang membantu di lini belakang.  "Banyak yang tidak datang karena sibuk kerja," kata koordinator pengunjuk rasa yang kemarin bilang meu mengerahkan 10.000 orang.

Unjuk rasa pun kering. Sekadar orasi dan bakar ban. Ritual wajib unjuk rasa. Malam harinya, pengunjuk rasa seperti pengen nunjukin kalau mereka punya daya dan kuasa. Sebuah kedai makanan cepat saji ludes dibakar dan dirusak massa.

Saya sangat mengapresiasi upaya mahasiswa dan sejumlah aktivis menyuarakan penolakan kenaikan harga BBM. Meskipun, penolakan itu masih perlu diperdebatkan. Tapi, janganlah sampai meciderai kenyamanan dan keamanan warga. Jalanan  macet, aktivitas warga terganggu.


pengunjuk rasa mengirim pesan singkat ke rekannya saat berunjuk rasa dan dihadang ratusan polisi di kawasan Bandara Internasional Polonia Medan, Senin (17/6/2013)